melukis diatas air
Kamis, 05 Juli 2012
sang pencerah
pembahasan tentang ini saya saya masukan karen kekaguman saya juga terhasap KH. Ahmad Dahlan
Telah penyusun jelaskan di atas bahwa Kyai Dahlan selama di Mekah dalam hajinya yang pertama dan kedua banyak berguru demi memperdalam wawasan ke-Islamannya. Telah kita sama-sama ketahui pula seperti apa keadaan Timur Tengah semasa beliau belajar di sana. Dari kedua premis ini dapat kita ambil benang merah terkait perkembangan pemikiran Kyai Dahlan sepulang dari Mekah. Ketika pemahamannya akan keberagamaan kian matang ia pulang dan berhadapan dengan kenyataan-kenyataan sosial masyarakatnya yang terkadang tidak sejalan dengan pengetahuan yang beliau terima di Mekah.
Kyai Dahlan tentulah pernah bersentuhan
dengan gagasan pembaruan Islam yang diusung oleh Muhammad Abduh dan
Jamaluddin Al-Afghani. Lagipula beliau juga belajar di Mekah yang
merupakan bagian dari tanah Arab yang ketika itu diwarnai dengan
gerakan-gerakan purifikasi Islam ala Wahabi. Persentuhan intelektual ini
jelas meninggalkan bekas mendalam bagi Kyai Dahlan. Bertolak dari
situlah Kyai Dahlan mulai menghayati perlunya suatu gerakan pembaruan
Islam di kampung halamannya. Ketika Islam telah tercampur aduk dengan
tradisi dan umat muslim kian terjebak dalam formalitas agama jelas harus
ada yang ‘meluruskannya’ kembali. Inilah peran besar yang diambil oleh
Kyai Dahlan dengan penuh keinsyafan.
Penyusun berpendapat bahwa pemikiran
pembaruan dan pemurnian Islam Kyai Dahlan merupakan sebuah sintesis
pemikiran. Kyai Dahlan sampai pada cita-citanya setelah ‘terlibat’
dialog intelektual dari pembacaannya terhadap gagasan-gagasan serupa di
Timur Tengah dan kegelisahannya menghadapi kenyataan sosio-kultural
masyarakat muslim Jawa yang terjebak formalitas keagamaan. Yang otentik
dari Kyai Dahlan Adalah model gerakannya yang mengakar. Tajdid aatau
pembaruan dihayati sebagi sebuah gerakan sosial yang tidak hanya mandeg
di tataran ide, tapi juga tindakan nyata yang menyentuh langsung
kehidupan umat muslim. Dalam bahasa Mohammad Damami, MA, dalam karyanya Akar Gerakan Muhammadiyah,
bergama harus menyapa kehidupan. Untuk lebih jelasnya tentang
pokok-pokok pemikiran Kyai Dahlan dan aktualisasinya akan penyusun
uraikan di bawah ini.
Ketokohan KH Ahmad Dahlan (selanjutnya
disebut Kyai Dahlan) bagi Muhammadiyah bisa kita bandingkan layaknya KH
Hasyim Asy’ari bagi Nahdlatul Ulama atau Taqiyuddin An-Nabhani bagi
Hizbut Tahrir. Kyai Dahlan adalah sosok penting yang meletakkan
dasar-dasar pergerakan organisasi Muhammadiyah. Selain itu, dalam
konteks yang lebih luas, beliau adalah pembaru Islam di Indonesia. Rekam
jejaknya secara nyata dapat kita lihat dari Muhammadiyah di masa kini.
Seperti kita sama ketahui, kini Muhammadiyah mengelola ribuan institusi
pendidikan sejak jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Tak
hanya itu, Muhammadiyah juga masih mengelola ratusan rumah sakit,
poliklinik, apotek, panti asuhan bahkan pusat pengembangan masyarakat.
Semua itu bukanlah pencapaian yang biasa saja dan lebih penting lagi,
semua itu bermula dari Kyai Dahlan.
Sungguh sangat relevan bagi kita di masa
kini untuk kembali mempelajari gagasan-gagasan dan aksi nyata yang
dilakukan oleh Kyai Dahlan. Namun, sayangnya agak sulit bagi generasi
sekarang untuk mempelajari pemikiran Kyai Dahlan secara terstruktur. Hal
ini mengingat Kyai Dahlan sendiri bukanlah seorang cendekiawan penulis.
Sejauh yang dapat dilacak hanya ada dua peninggalan tertulis dari Kyai
Dahlan. Itupun bukanlah sebuah buku yang disusun khusus oleh beliau.
Manuskrip tersebut adalah transkrip dari pidato yang pernah beliau
sampaikan kepada khalayak Muhammadiyin dan sebuah brosur.
Tahun 1922, Schrieke menyinggung sebuah
brosur yang ditulis oleh Kyai Dahlan dan diterjemahkan dalam bahasa
Belanda oleh R. Kamil. Brosur tersebut berjudul “Het Bindmiddle der Menschen”
(Kesatuan Hidup Manusia). Sayangnya brosur tersebut hingga kini
diketahui lagi keberadaannya. Lalu satu lagi dokumen transkrip pidato
Kyai Dahlan yang diberi judul “Tali Pengikat Hidup”. Pidato ini
disampaikan oleh Kyai Dahlan dalam Kongres Muhammadiyah tahun 1922.
Transkrip pidato yang amat penting ini diterbitkan oleh HB Muhammadiyah
Majelis Pustaka setahun kemudian.
Langganan:
Postingan (Atom)



